Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Kamis, 10 November 2016

Ketika Rokok dan Kopi Tidak Lagi Menjadi Kawan yang Romantis

Beberapa hari ini kopi tidak memberikan efek menenangkan. Rokok juga terasa hambar di mulut. Pikiran seakan mengacaukan seluruh indra yang aku punya. Indra pengdengaran, pendengaran, penglihatan, indra mencecap, peraba hingga indra perasa di hati dan otak. Dunia seakan sedang mengawasiku dengan matanya yang bengis. Semua manusia seakan menertawaiku dengan nada menghina.
Pulanglah, itulah kata-kata yang terngiang ketika aku mencoba memejamkan mata. Kau hanya menghabiskan waktumu sia-sia selama dua bulan ini. Dipermainkan harapan palsu dan impian semu. Kembalilah ke asalmu, di sana kau bisa tidur sepuas yang kau mau. Bisa makan sekenyang yang kau inginkan, dan yang paling berharga, kau bisa berbicara hingga mulutmu berbusa dengan kawan-kawan yang saat ini kau tinggalkan.
Pikiran-pikiran itu menghantuiku setiap aku ingin memejamkan mata. Rokok yang terasa hambar bahkan hanya membuatku ingin mutah. Aku bahkan takut untuk meminum kopi di tengah malam. Aku takut malah semakin tidak bisa tidur dan pikiran-pikiran untuk menyerah itu, semakin menghantuiku. Kadang aku ingin pergi ke luar kos, berjalan entah kemana tanpa tujuan. Menikmati malam yang jahanam, mengarungi kesunyian yang tanpa seorang pun tau. Tetapi seperti yang dikatan bule dalam sebuah acara talkshow di tivi swasta itu, orang Indonesia terlalu takut untuk berjalan sendirian, mereka takut malam, takut hantu, bahkan takut manusia lain.
Entah apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bosan, aku penat, aku resah, aku gelisah. Pekerjaan, itu kunci atas semua kegelisahanku. Tetapi seakan konstruksi sosial di negara ini mengacuhkan lulusan sarjana sastra tanpa pengalaman berarti. Sudah banyak lamaran yang aku masukan. Hingga aku sampai malas membuka e-mail yang isinya permohonan untuk diterima kerja yang seakan malah menghina diriku sendiri. Aku berpikir, apa ada yang salah dengan e-mailku? Atau ada yang salah dengan CV ku? Atau ada yang salah dengan diriku? Atau ada yang sedang bermain dukun, menyantetku agar aku tidak diterima kerja di perantauanku ini?
Yang aku rindukan adalah kawan-kawan sastraku yang budiman. DI sini aku tidak punya kawan seperti mereka. Tidak ada yang bisa memahami apa yang aku pikirkan. Tidak ada yang memahami impian absurd yang aku damba-dambakan. Mungkin kawan-kawan yang aku kenal di sini hanya berpikiran “ah, dia hanya manusia aneh yang memanfaatkan kawannya untuk mendapatkan kerja, manusia naïf, munafik.” Mungkin. Aku juga tidak boleh menyalahkan mereka sebenarnya, toh mereka baru saja aku kenal. Mana mungkin mereka bisa memahami apa yang aku pikirkan atau rasakan.
Kembali, aku ingin pulang. Tapi apakah pulang akan menyelesaikan persoalan ini? Mungkin memang di sana aku akan mendapat kenyamanan. Tapi apakah aku akan bisa bertahan dengan kenyamanan itu? Baik, mungkin aku akan dihina, bahwa aku orang gagal dalam perantauan. Tapi bukan itu yang membuatku tidak ingin kembali pulang. Aku percaya aku bisa mengatasi hinaan itu, toh itu hanya sementara. Tapi aku tegaskan sekali lagi bukan itu yang membuatku takut untuk pulang. Aku takut dengan kenyamanan semu itu. Kenyamanan yang hanya membuatku menjadi robot peradaban. Aku lahir, hidup, kawin dan mati, aku tak mau itu semua, harus ada yang aku peroleh dari kehidupan ini, harus ada yang aku pahami tentang hidup ini.

Sekali lagi, ketika rokok dan kopi tidak lagi menjadi kawan yang romantis, lalu apa yang bisa membuatku tenang? Selain kesunyian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar