Seperti
biasa, nikotin dan kafein membawaku ke sebuah kontemplasi ringan malam ini.
Alunan
takbir masih dikumandangkan anak-anak kecil lewat toa masjid di seberang jalan.
Diselani canda tawa khas anak-anak, aku terbawa ke sebuah desa kecil di salah satu
sudut kecamatan di Yogyakarta. Desa tempat aku lahir dan tumbuh hampir 24
tahun. Sekarang, aku berada berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari desa itu, aku
berada di Bandung. Aku mencoba mengikuti apa yang aku anggap prinsip hidup,
merantau adalah cara terbaik mencari jati diri, menurutku. Selalu, “setiap
mahluk hidup berhak atas kemerdekaan mereka sendiri” adalah kalimat yang aku
pegang dalam setiap langkah yang jejak di kota ini.
Besok
adalah hari raya Idul Adha, orang-orang di desaku pasti sedang menjalankan
acara takbiran malam ini, mungkin sampai jam 10 malam dan setelah itu gantian
para muda-muda akan saling bergantian mengumandangkan takbir di masjid. Tentu
saja diselani canda tawa, ada yang sambil merokok, ada yang sambil ngopi,
bahkan ada yang sambil tiduran, kadang sampai ada yang tertidur, aku terbawa ke
sana. Ragaku sedang di sini, merokok sambil ngopi, mendengarkan anak-anak
mengumandangkan takbir, tetapi yang terdengar adalah suara kawan-kawanku di
sana. Jiwaku terbang secepat cahaya, melihat mereka tertawa, terkantuk,
terlelah.
Acara
siangnya adalah menyembelih hewan qurban. Aku dengar di masjid sana bakal
menyembelih 4 ekor sapi dan 3 ekor kambing. Warga akan gotong royong mengurusi
daging, dan kawan-kawanku pasti memilih mengurusi air minum di belakang. Warga
di desaku akan berpesta esok hari. Aku di sini membayangkan hari esok, ke
masjid terdekat sendirian, melaksanakan sholat ied dan kembali ke kamar.
Merenungi jalan pikiranku sendiri, menikmati pilihan yang telah aku pilih. Aku
berpikir, jika orang lain akan berqurban sapi atau kambing, aku akan berdoa
kepada Tuhan, “Izinkan aku berqurban apa-apa yang telah aku tinggalkan”, semoga
Tuhan menerima ibadahku.
Maklum,
ini adalah hari raya pertamaku jauh dari tempat aku lahir, jauh dari keluarga
dan kawan-kawan. Mungkin terlihat sedikit berlebihan, pasti banyak orang yang
lebih galau dari pada aku. Mereka pasti ada yang berkali-kali melaksanakan hari
raya jauh dari apa-apa yang mereka tinggalkan. Tapi biarlah, biarlah aku
menikmati kontemplasi ringan malam ini. Izinkan aku menulis beberapa
paragraf melankolis karena kegalauanku
sendiri.
Semoga
apa-apa yang aku tinggalkan di sana selalu sehat dan bahagia. Semoga apa yang
aku lakukan ini adalah benar, dan semoga Tuhan selalu bersama manusia-manusia
yang memilih jalan hidupnya sendiri. Alam semesta, terima kasih malam ini kau
membawaku menikmati kerinduan yang aku ciptakan sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar