KEPULANGAN
Fuad Cahyadiputra
Akhirnya
aku sampai di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Aku mulai menyusuri jalan menuju
pintu keluar bandara. Penuh, ramai, tapi cukup rapi, bandara yang bagus,
pikirku. Karena terlalu lelah aku memutuskan duduk sejenak di ruang tunggu
bandara, umur memang tidak bisa dibohongi, apalagi sudah lama aku tidak naik
pesawat. Di ruang tunggu aku mencoba menikmati suasana bandara ini, orang
berlalu-lalang dengan kesibukkannya, memainkan handphone dan sebagainya. Tak ada sapaan, tak ada tegur sapa atau
sekedar senyum, tak seperti yang ku bayangkan.
Jogja, sudah hampir 30 tahun
aku tidak datang ke kota ini, lama memang, sejak umur 19 tahun aku ikut pindah
bersama orang tuaku ke Kalimantan. Waktu itu tahun 1984, Ayahku dipindah
tugaskan ke daerah Kalimantan, tepatnya di daerah Meliau, Sangau, Kalimantan
Barat. Karena di Jogja orang tua Ayahku sudah tidak ada, tinggal Kakak dan Adik
dari Ayahku, dia memutuskan untuk membawa seluruh keluarganya ke Kalimantan.
Itu juga karena ada suatu hal yang membuat Ayah dan saudaranya tidak akur. Aku
menduga, mungkin karena Ayahku seorang Tentara dan Adiknya adalah seorang
wartawan, sedang Kakak Ayahku, aku hanya beberapa kali bertemu dengannya,
tubuhnya besar, ada rajah naga di tangan kirinya, kata Ayahku dulu, dia seorang
“Bajingan”.
Sejak saat
itu aku tidak pernah kembali ke kota ini. Ayahku sudah seperti melupakan kota
ini, melupakan saudaranya. Selama sisa hidupnya, ia tidak pernah kembali ke
kota ini. Aku pun demikian, sampai usiaku yang hampir 49, aku belum pernah
kembali ke kota ini. Hanya kenangan masa muda yang terlintas di kepala, itupun
hanya awal-awal aku pindah. Setelah aku masuk kuliah , bertemu teman baru,
hingga menjadi tenaga pengajar di sana, aku mulai melupakan masa mudaku di kota
ini. Ditambah pula Ayahku yang seperti menghindari sesuatu yang mengingatkannya
akan, Jogja.
Apakah kota
ini telah berubah? Atau kah masih seperti dulu? Orang-orang bersepeda dan
berjalan kaki di mana-mana, sedang senyum selalu menyapa di setiap pertemuan
manusia. Aku mendengar dan melihat di tv, ketika ada film atau berita tentang
Jogja, di tivi, Jogja sepertinya belum berubah, ia masih seperti yang dulu,
kota kebudayaan, kota pelajar, di mana asas kemanusiaan masih melekat di setiap
manusianya. Aku pernah melihat sebuah film yang berlatar tempat di Jogja, di
film itu aku melihat Jogja masih banyak sawah, jalan-jalan masih sepi, orang-orang
masih banyak yang memakai sepeda ontel.
Aku juga jadi ingat sebuah acara wisata kuliner yang saat itu bertempat di kota
ini, di acara itu, aku melihat orang-orang Jogja ramah-ramah dan murah senyum.
Aku sangat tidak sabar menelusuri kota ini.
“Mau
kemana, Pak?” Seseorang mengaburkan lamunanku, laki-laki tegap dengan seragam
biru dan papan nama di saku bajunya.
“Selamat
Sore, Mas, Saya mau ke Daerah Jetis.”
“Owalah . . . Jetis? Mau naik taksi,
Pak?”
Aku
berfikir sejenak, tujuanku ke kota ini adalah dua hal, pertama aku ingin
bertemu dengan teman masa mudaku yang beberapa minggu lalu tiba-tiba
menghubungiku saat di Kalimantan. Yang ke dua, karena aku sudah pensiun, aku
ingin menghabiskan masa tuaku untuk mengenang masa mudaku dulu, di kota ini.
“Maaf, Mas,
kalau becak ada?” jawabku sembari ingin mengenang rasanya naik becak.
“Hahaha .
. . di bandara ini becak sudah dilarang
masuk, Bapak, Hahaha. . . “
“Oh begitu.
. . Maaf, Mas, maklum saya sudah hampir 30 tahun tidak datang ke kota ini.”
Tiba-tiba
sopir taksi itu berhenti tertawa, raut mukanya yang tadi mengejek berubah
seketika menjadi senyum licik, aku tahu apa yang dia fikirkan.
“Benarkah,
Pak? Jika begitu, mari saya antarkan saja naik taksi, agar lebih aman, pasti
Bapak kebingungan di sini, mari, Pak.”
Suara sopir
taksi itu menjadi ramah dan halus, beda sekali dengan ketika dia mengejek tadi.
Aku melihat jam tangan, sudah jam 3 sore, aku harus segera menuju rumah
temanku. Sengaja aku tidak memberi tahu dia kalau aku datang ke Jogja, pasti
dia akan terkejut jika aku tiba-tiba ada di depan rumahnya. Akhirnya aku menyetujui penawaran sopir itu
dengan anggukan.
“Baiklah,
Pak, taksi saya ada di seberang jalan itu, saya bawakan barang bawaan Bapak,
nanti Bapak menyusul saja.”
Aku hanya
mengangguk, malas rasanya membalas orang seperti ini dengan kata-kata. Seketika
sopir itu membawa koperku dan bergegas ke taksinya. Aku mengikutinya dari belakang,
sopir itu berjalan cepat sekali, sedang aku sudah terlalu tua untuk berjalan
cepat. Tanpa aku sadari sopir itu sudah ada di seberang jalan. Saat aku hendak
menyusulnya menyeberang jalan, tiba-tiba suara klakson motor berbunyi keras dari samping kananku.
“Asuuu. . . matane dipakai nek mlaku.”
Teriak
seorang pemuda sambil memacu motornya kencang-kencang. Sebelum aku berkata,
pemuda itu sudah jauh pergi. Aku hanya menghela nafas, walau sudah lama tidak
di Jogja aku paham apa yang dikatakan pemuda itu. Asu atau anjing dalam bahasa Indonesia adalah umpatan favoritku
waktu muda di Jogja.
Akhirnya
aku sampai di dalam taksi, tanpa sepatah kata sopir taksi itu menjalankan
taksinya.
***
Jalanan
begitu ramai, di kanan kiri mobil dan motor saling salip tanpa pamrih. Aku
meminta sopir untuk membuka kaca jendela, aku ingin menikmati udara Jogja dan
pemandangannya dengan jelas. Tiba-tiba di kiri kami sebuah bus kota menyalip dengan kenalpot yang mengeluarkan asap hitam pekat, lalu di kanan kami sebuah motor
dengan klakson sangat keras menyalip dengan kencang. Akhirnya aku menutup
kembali jendela taksi, menghela nafas panjang. Di depan kami matahari mulai
memerah, senja mulai datang, menyilaukan, menggetarkan.
Tiba-tiba
mobil di depan kami berhenti mendadak, sopir taksi pun menginjak rem dan aku
terdorong ke depan, kepalaku terbentur kursi sopir taksi.
“Asu .
. . Bajingan . . .” umpat sopir taksi sambil memencet tombol klakson keras-keras.
Aku hanya menghela
nafas panjang kembali. Tak terbayangkan oleh ku Jogja sesibuk ini, seramai ini,
sekeras ini.
Setelah
hampir setengah jam taksi kami berjalan pelan di kemacetan jalan, aku mulai
bosan. Akhirnya aku memberanikan diri membuka pembicaraan dengan sopir taksi.
Kebetulan aku melihat bangunan besar dan megah di kanan jalan, bangunan itu
sangat mencolok dibanding bangunan-bangunan yang lain.
“Itu di
samping kanan kita bangunan apa, Mas?
“Oh . . .
itu Mall Ambarukma , Pak, beberapa tahun lalu dibangun.”
“Jogja,
benar-benar berubah, Mas.” Jawabku sambil merebahkan kembali punggungku di
tempat duduk.
“hahaha. .
. kalau Bapak sudah 30 tahun tidak ke Jogja, jelas sangat berubah, Pak. Bahkan
di Jogja akan di bangun Mall baru, Pak.”
“Yang
benar, Mas? Jadi sudah berapa Mall yang ada sekarang?”
“Berapa ya?
Saya kurang tau, Pak, tapi yang jelas banyak, buktinya ya ini, kemacetan di
mana-mana.
Aku tidak
menjawab, dari jawaban sopir taksi tersebut aku sudah bisa membayangkan keadaan
kota ini sekarang. Jika sudah ada dua Mall besar seperti Mall tadi, bisa
dibayangkan kehidupan bagaimana yang sekarang ada di kota ini.
Senja
semakin memerah, cahayanya semakin redup, seakan ingin cepat-cepat ia
beristirahat. Aku pun mulai lelah, yang terlihat di kanan-kiri jalan hanya
toko-toko dan gedung-gedung tinggi. Tak ada pejalan kaki, pengendara sepeda,
tak ada sawah, bahkan pohon pun jarang ku lihat di sepanjang jalan tadi. Mataku
lelah, aku memutuskan untuk tidur.
***
“Pak. . .
Pak . . .” suara sopir taksi membangunkan ku. “Alamat lengkap rumah teman Bapak
di mana ya?”
“Oh . . .
iya, maaf, Mas, sebentar.” Aku mengambil kertas yang ada di saku baju. “ini,
Mas.”
“Permisi,
terima kasih, Pak.”
“Bukankah
itu Tugu, Mas?” Tanyaku tanpa peduli dengan kertas yang ku berikan .
“Iya, Pak,
itu Tugu Jogja, lambang kota ini.”
Tiba-tiba
sebuah kenangan mulai menari di pikiran, kenangan tentang masa muda yang telah
lama terlupakan. Terkenang di bawah tugu itu segerombol anak muda menghabiskan
malam bersama. Teringat ketika kami berjalan kaki dari rumah temanku hanya
untuk minum wedang ronde di pojok
perempatan ini. Teringat kembali bagaimana temanku berkata saat dia
menghubungiku beberapa minggu lalu, “ayo kita ngombe wedang ronde di Tugu lagi” katanya sebelum cerita tentang
kenangan waktu muda dan riwayat hidup setelah kami berpisah mengalir semalaman
lewat gelombang suara. Dalam ceritanya, ia memilih menjadi wartawan setelah
lulus kuliah. Sekarang, saat usia tak bisa dibohongi, ia pensiun dan hanya
sesekali menulis untuk mengisi beberapa kolom surat kabar.
Taksi kembali
berjalan, sopir mengarahkan taksi untuk berbelok ke kanan, di kejauhan, di
bawah Tugu yang disinari merah senja, seakan aku melihat temanku, melambaikan
tangan, mengajakku bergabung di sana. Membuatku semakin tidak sabar untuk
bertemu teman lamaku itu.
Taksi mulai
memasuki gang, aku hampir tak mengenali tempat ini. Di kanan-kiri pagar rumah
begitu tinggi, seakan menghalangi orang yang ingin bertamu. Aku ingat dulu
tidak seperti ini, bahkan yang mempunyai pagar permanen hanya satu dua rumah.
Taksi
semakin masuk ke gang sempit, jalannya hanya cukup untuk satu mobil. Terlihat
ada bendera putih di pojok persimpangan jalan. Taksi masuk ke persimpangan itu,
jalan semakin sempit. Di kejauhan terlihat kerumunan orang berpakaian muslim,
di depan sebuah rumah terpasang sebuah tenda dengan orang-orang yang duduk di
bawahnya mengisyaratkan kesedihan. Ketika sopir taksi membuka kaca taksi,
seketika pula terdengar suara orang mengaji dari sebuah pengeras suara.
Aku mulai
teringat tempat ini, ketika dulu aku datang ke rumah temanku, dengan suasana
yang persis sama seperti ini. Ketika Ayah temanku meninggal dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar