Akhirnya, setelah berkelana lebih
dari dua bulan, Bandung, Bogor, Bekasi, Depok, aku dapat pekerjaan. Aku
mendapat pekerjaan di salah satu lembaga bimbingan belajar yang sedang
berkembang. Aku bekerja sebagai pengajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Walau hanya mengajar seminggu tiga atau empat kali dan gajinya
bahkan untuk makan saja pas-pasan aku akan menjalaninya sebagai pijakan untuk
meraih mimpi seorang pecundang. Terima kasih untuk kawan yang bahkan sudah
lebih dari empat tahun tidak bertemu telah memberiku jalan untuk mendapatkan
pekerjaan ini.
Aku
bekerja di daerah Menteng, 15 menit ditempuh berjalan kaki dari Stasiun Cikini.
Aku mengajar kelas 10 sampai 12 dan mengajar hari Rabu, Sabtu dan Minggu.
Harusnya aku mengajar hari Rabu, Jumat dan Minggu, tetapi teman yang mengajar
Bahasa dan Sastra Indonesia satunya meminta menukar jadwal, tidak apa, toh aku
orang selo yang hari apapun bisa. Bahkan kalau perlu temanku itu tidak perlu
mengajar juga tidak apa, aku saja yang mengajar, biar gajiku jadi lebih. Tapi
aku tidak boleh rakus.
Karena
uang dari mengajar belum cukup untuk menyewa kos atau kontrakan aku memilih
berangkat dari tempat saudara, kadang dari Bogor tempat masku tinggal, kadang
dari Bekasi tempat saudara yang lain. Karena demikian maka aku sekarang menjadi
anak KRL Jabodetabek. Setiap Rabu, Sabtu dan Minggu aku menyusuri jalur KRL
yang mengagumkan sekaligus aku yakin akan menjemukan. Orang-orang berlarian
mengejar kereta seperti takut kalau harapan mereka akan direbut orang lain.
Pergantian kereta di stasiun transit yang begitu sibuk, dan suara oprator KRL
yang suaranya lelah bercampur pasrah. Semua itu mengagumkan tetapi aku yakin
sebentar lagi akan menjadi hal yang menjemukan bagiku.
“Tidak
apa, jalani saja, semua butuh proses.” Kata Bu Lek Sumi dan kata hatiku
sendiri. Ya, ini adalah pijakan pertama untuk pijakan-pijakan selanjutnya yang
aku yakin akan semakin ringan. Untuk menaklukan ratusan anak tangga menuju
puncak Gunung Midoriyama. Aku akan menjalaninya, ini jalan yang aku pilih. Enam
bulan aku harus menjadi anak Jakarta yang elu gue elu gue, padahal impianku
berda di Bandung yang aing sia aing sia. Tidak apa, setelah aku punya modal
pengalaman dan ekonomi aku akan kembali ke kota kembang itu. Tunggu aku.
Kadang,
ketika berjalan kaki melewati Jalan Cikini dari stasiun sampai kantor, saat
langkahku mulai menapaki depan TIM, aku merasa ada kerinduan yang menusuk.
Kerinduan akan seni, tentang keindahan yang ambigu, tentang diskusi tentang
hidup yang tak pernah selesai. Kadang, ketika aku pulang hingga larut malam,
aku merindukan kasih sayang, kasih sayang seorang wanita. Semua kecup mesra,
belaian manja, menamparku, menyadarkan aku pada kesepian yang aku jalani.
Kemanakah engkau gerangan cinta yang aku cari? Masihkan engkau hidup di suatu
tempat di dunia ini? Masihkah kau menanti hadirku yang kini sedang terlunta
dipermainkan mimpi?
“Kau
harus kuat, ini jalan yang kau pilih.” Perkataan sahabat lewat linimasa
meneguhkan niatku untuk berjalan cepat dan menyelesaikan semuanya. Aku akan
meraih impian itu. Aku akan menemukan apa yang aku cari, aku akan menyelesaikan
misi. Menjalani hidup sebagai pengajar, mencari pekerjaan lain sebagai yang
utama, menyewa kos, merokok dan ngopi sambil membaca dan menulis buku. Impian
yang indah.
Oh ya,
aku sekarang juga memiliki sumber semangat baru. Setiap kali aku mengajar,
ketika melihat murid-muridku tersenyum, aku mendapat semacam jawaban, hidup ini
akan menjadi sia-sia jika tidak dibagi. Aku akan mengajari mereka tentang
sastra dan seni, tidak peduli mereka akan suka atau HRD akan menegurku karena
melenceng dari materi sekolah. Aku akan membagi cintaku pada dunia sastra,
tentang keindahan yang ambigu, yang multitafsir dan penuh metafor. Selamat datang
pijakan baru. Aku kuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar