Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Senin, 21 November 2016

Selamat Datang Pijakan Pertama ; Aku Kuat

Akhirnya, setelah berkelana lebih dari dua bulan, Bandung, Bogor, Bekasi, Depok, aku dapat pekerjaan. Aku mendapat pekerjaan di salah satu lembaga bimbingan belajar yang sedang berkembang. Aku bekerja sebagai pengajar mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Walau hanya mengajar seminggu tiga atau empat kali dan gajinya bahkan untuk makan saja pas-pasan aku akan menjalaninya sebagai pijakan untuk meraih mimpi seorang pecundang. Terima kasih untuk kawan yang bahkan sudah lebih dari empat tahun tidak bertemu telah memberiku jalan untuk mendapatkan pekerjaan ini.
                Aku bekerja di daerah Menteng, 15 menit ditempuh berjalan kaki dari Stasiun Cikini. Aku mengajar kelas 10 sampai 12 dan mengajar hari Rabu, Sabtu dan Minggu. Harusnya aku mengajar hari Rabu, Jumat dan Minggu, tetapi teman yang mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia satunya meminta menukar jadwal, tidak apa, toh aku orang selo yang hari apapun bisa. Bahkan kalau perlu temanku itu tidak perlu mengajar juga tidak apa, aku saja yang mengajar, biar gajiku jadi lebih. Tapi aku tidak boleh rakus.
                Karena uang dari mengajar belum cukup untuk menyewa kos atau kontrakan aku memilih berangkat dari tempat saudara, kadang dari Bogor tempat masku tinggal, kadang dari Bekasi tempat saudara yang lain. Karena demikian maka aku sekarang menjadi anak KRL Jabodetabek. Setiap Rabu, Sabtu dan Minggu aku menyusuri jalur KRL yang mengagumkan sekaligus aku yakin akan menjemukan. Orang-orang berlarian mengejar kereta seperti takut kalau harapan mereka akan direbut orang lain. Pergantian kereta di stasiun transit yang begitu sibuk, dan suara oprator KRL yang suaranya lelah bercampur pasrah. Semua itu mengagumkan tetapi aku yakin sebentar lagi akan menjadi hal yang menjemukan bagiku.
                “Tidak apa, jalani saja, semua butuh proses.” Kata Bu Lek Sumi dan kata hatiku sendiri. Ya, ini adalah pijakan pertama untuk pijakan-pijakan selanjutnya yang aku yakin akan semakin ringan. Untuk menaklukan ratusan anak tangga menuju puncak Gunung Midoriyama. Aku akan menjalaninya, ini jalan yang aku pilih. Enam bulan aku harus menjadi anak Jakarta yang elu gue elu gue, padahal impianku berda di Bandung yang aing sia aing sia. Tidak apa, setelah aku punya modal pengalaman dan ekonomi aku akan kembali ke kota kembang itu. Tunggu aku.
                Kadang, ketika berjalan kaki melewati Jalan Cikini dari stasiun sampai kantor, saat langkahku mulai menapaki depan TIM, aku merasa ada kerinduan yang menusuk. Kerinduan akan seni, tentang keindahan yang ambigu, tentang diskusi tentang hidup yang tak pernah selesai. Kadang, ketika aku pulang hingga larut malam, aku merindukan kasih sayang, kasih sayang seorang wanita. Semua kecup mesra, belaian manja, menamparku, menyadarkan aku pada kesepian yang aku jalani. Kemanakah engkau gerangan cinta yang aku cari? Masihkan engkau hidup di suatu tempat di dunia ini? Masihkah kau menanti hadirku yang kini sedang terlunta dipermainkan mimpi?
                “Kau harus kuat, ini jalan yang kau pilih.” Perkataan sahabat lewat linimasa meneguhkan niatku untuk berjalan cepat dan menyelesaikan semuanya. Aku akan meraih impian itu. Aku akan menemukan apa yang aku cari, aku akan menyelesaikan misi. Menjalani hidup sebagai pengajar, mencari pekerjaan lain sebagai yang utama, menyewa kos, merokok dan ngopi sambil membaca dan menulis buku. Impian yang indah.

                Oh ya, aku sekarang juga memiliki sumber semangat baru. Setiap kali aku mengajar, ketika melihat murid-muridku tersenyum, aku mendapat semacam jawaban, hidup ini akan menjadi sia-sia jika tidak dibagi. Aku akan mengajari mereka tentang sastra dan seni, tidak peduli mereka akan suka atau HRD akan menegurku karena melenceng dari materi sekolah. Aku akan membagi cintaku pada dunia sastra, tentang keindahan yang ambigu, yang multitafsir dan penuh metafor. Selamat datang pijakan baru. Aku kuat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar