Fuad Cahyadiputra
Pagi
ini aku membuka mata, seperti biasa aku langsung menuju balkon kos-kosan. Aku
ingin mendapat udara segar pagi hari. Tapi saat membuka pintu menuju balkon,
sambil membuka mata, bukan udara segar yang kudapat, malah sebongkah benda
bulat yang bersisik. Yang lebih membuat tercengang lagi adalah benda itu
besarnya sampai menutupi jalan.Dan tingginya sampai aku—yang ada di lantai dua
kos-kosan—bisa menyentuhnya.Benda ini memanjang menyusuri jalan hingga aku tak
bisa melihat ujungnya. Benda ini mirip sisik ular, atau tubuh ular, tapi ular
apa yang besarnya sampai menutupi jalan kota ini?
Semakin
penasaran aku mencoba menyentuhnya, aku menyentuh benda itu, terasa sekali
kalau ini sisik ular, aku semakin yakin.Rasanya hangat, berarti dia masih
hidup, tapi tiba-tiba aku mulai merasa ada yang mengalir dalam tubuh ular itu,
seperti detak jantung.Semakin aku menghayati detak jantung itu, mengalir
seperti aliran sungai, bergelombang.Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara yang
ada di otakku; “Naiklah, naik dan berjalanlah sampai ke kepalaku!”
“Kau siapa?” tanyaku dalam
pikiran juga.
Tapi
dia tidak menjawab, akhirnya aku mematuhi perintah itu, aku naik di atas tubuh
ular yang memenuhi jalan itu dan berjalan menyusuri tubuhnya.Tapi di mana
kepalanya?Aku hanya mencoba mengikuti insting, aku hanya mencoba peduli.
Saat
aku mencoba menyusuri tubuh ular itu tiba-tiba dari sebuah rumah seseorang
meneriaki ku.
“Hei apa yang kau lakukan di
situ?Bahaya goblok!!!”
“Ada apa?”
“Kau tidak lihat tipi ya?Itu ular kutukan, ular itu telah
memenuhi jalanan Jogja.”
“Haa?Bagaimana bisa?”
“Mana aku tahu, sudah
turunlah, dari pada kau celaka nanti!”
“Aku hanya mencoba peduli!”
“Ahhh. ..terserah kau lah!!!”
Teriak orang itu sambil menutup pintu rumahnya.
“Dasar orang zaman sekarang,
mereka hanya bisa melihat berita di tipi
tapi tidak bisa berbuat apa-apa atau lebih tepatnya tidak mau berbuat apa-apa,
mending aku yang tidak punya tipi,” gerutuku
dalam hati.“Sudah tahu ada ular yang menutupi seluruh jalan daerahnya, tapi
mereka malah enak-enakan dirumah, tidak mau peduli, enak-enakan menonton tipi, lihat internet, ya ampun!!”
Sambil
melamun aku tetap menyusuri punggung ular ini, tapi tidak kutemukan juga
kepalanya.Apa benar ular ini telah menutupi seluruh jalanan Jogja? Kalau begitu
aku harus memutari Jogja hingga bisa menemukan kepalanya.“Hei ular sebenarnya
kepalamu dimana sih?” ular itu tetap tidak menjawab.
Tiba-tiba
suara helikopter mengagetkanku, hempasan baling-balingnya menyapu pohon-pohon
yang ada di sekitarku.Aku juga pasti terjatuh dari punggung ular ini kalau tidak
menunduk. Dan dari helikopter itu terdengar suara, sepertinya orang itu memakai
alat pengeras suara.
“Hei kau orang gondrong,
sedang apa kau di sana?” teriaknya, sepertinya dia sedang emosi.
“Aku mencari kepala ular ini.”
“Kau bodoh ya?Itu berbahaya,
cepat turun dan kembali ke rumahmu!”
“Tidak bisa, aku harus
menemukan kepala ular ini!”
“Woo lha gondrong ngeyel,
kenapa kau ingin menemukan kepala ular ini?”
“Ular ini yang menyuruhku
mencari kepalanya!” jawabku, sedang orang itu berhenti menjawab sejenak.
“Baiklah, tetap disitu!Aku
akan memberikanmu tali tangga.”
Tiba-tiba dari helikopter itu
jatuh tali tangga, tali itu hampir saja mengenai kepalaku.
“Naiklah!!!Akan ku antar kau ke
kepala ular ini!”
Tanpa
berpikir panjang aku langsung menaiki tali tangga itu, lagi pula aku juga sudah
lelah, hampir tiga jam aku berjalan di punggung ular itu. Sesampainya di dalam
helikopter aku melihat dua orang, yang satu pria berpakaian tentara, yang satu
seorang wanita muda berkacamata memakai blazer biru tua dan rok pendek seragam,
di pangkuannya bertumpuk kertas yang aku tak tahu apa.
“Siapa nama saudara?” tanya
sang pria dengan tegas.
“Emmhh…Saya Miko Pak, dari Kota Gede.”
“Oke saudara Miko, saya Ibnu,
saya Jenderal Angkatan Darat, dan ini saudari Ilmi, dia seorang ahli invertebrate, ilmuan ular lebih
gampangnya.”
“Saya Miko,” kataku sambil
berjabat tangan.
“Ilmi,” jawabnya singkat
dibarengi senyuman yang sungguh manis.
Belum
aku selesai bersalaman sambil menikmati wajah cantik wanita itu, sang Jenderal
segera memotong dengan suara setengah membentak.
“Baik saudara Miko, coba
ceritakan bagaimana ular itu bisa menyuruh kamu untuk mencari kepalanya?”
Akhirnya
aku menceritakan pengalamanku tadi pagi, yang membuatku harus berjalan di atas
punggung ular selama tiga jam.
“Baiklah saudara Miko, itu
tadi cerita yang tidak mutu, tetapi cocok dengan keadaan yang tidak mutu di
bawah kita, coba lihat ke bawah, sebuah keajaiban atau kutukan telah datang ke Jogja,
seekor ular raksasa memenuhi jalan kota Jogja, kami yakin ular itu datang dari
laut selatan, lihatlah ke arah selatan, ekor ular itu melilit jalan-jalan di
pantai Parangtritis, lalu ke utara melalui jalan Parangtritis hingga mencapai
kota, tapi yang membingungkan adalah, ular ini seperti bingung, badannya
berputar-putar hingga seluruh jalan di kota Jogja dan sekitarnya penuh oleh
badan ular itu.”
Benar,
sambil mendengarkan penjelasan dari jenderal itu aku mengamati keadaan dibawah
dari helikopter, jalan-jalan di Jogja penuh oleh badan ular itu, mulai dari
jalan Parangtritis, ring road, hingga
jalan-jalan kota, seperti Jalan
Tamansiswa, Jalan Mataram, Jalan Adisucipto, semua dipenuhi badan ular.
“Memang benar belum ada korban
jiwa, tetapi jika jalan di Jogja seperti ini, banyak orang dirugikan,
orang-orang tidak bisa kemana-mana, Jogja akan lumpuh!” sambung Ilmi yang dari
tadi memperhatikan di sebelah sang Jendral.
“Lalu dimana kepalanya?”
tanyaku sambil melihat mereka berdua.
“Di bawah kita sekarang,“
jawab ilmi sambil mukanya menunjukan arah bawah.
Seolah
tak percaya aku hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan dibawah.Aku berada
tepat di atas Alun-Alun Utara Jogja, dan kepala ular itu tepat di antara pohon
beringin kembar yang ada di tengah Alun-Alun.Badannya membujur ke arah utara
memenuhi Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Malioboro.
“Kita turun Bung!” perintah
sang Jenderal kepada pilot.
“Siap Pak” jawab sang pilot
dengan tegas.
Helikopter
turun perlahan, aku mulai melihat kerumunan tentara bersenjata lengkap,
tenda-tenda hijau tua, aku juga melihat tank dan panser, semua mengelilingi
kepala ular itu, semua siaga satu, banyak juga wartawan yang mengambil video atau
foto.Tetapi tak ada penduduk sipil, entah karena mereka tak bisa kemari atau
mereka memang tidak peduli.
Kami
mulai turun dari helikopter, tanpa pikir panjang aku langsung disuruh jendral
itu untuk berbicara pada ular itu.
“Cepat segera selesaikan ini,
aku ingin liburan setelah ini selesai.”
“Tapi tak ada strategi atau
rencana dulu?” tanya Ilmi kebingungan.
“Kelamaan!Aku sudah bosan,
kalian terlalu banyak nonton film, segera bicara pada ular itu, suruh dia pergi
dan masalah selesai, kita bisa segera pulang liburan, ayolah, ini hari libur.”
Tanpa
pikir panjang juga akhirnya aku berjalan menuju kepala ular itu, ular itu mirip
ular piton, atau anaconda, kata Ilmi dari bentuk sisik dan kepala, ular itu
digolongkan kedalam keluarga ular piton.
Sambil
gemetaran aku menyentuh kepala ular itu, dekat, dekat sekali, hingga aku bisa
merasakan nafas ular itu, dia tertidur.
Tiba-tiba
suara itu datang lagi, suara yang ada di kepalaku.
“Kau telah sampai?”
“Kau ini apa? Atau ular apa?
Maksudku, kau dari mana dan apa maksudmu datang ke kota kami?
“Aku diundang oleh Jogja”
“Apa maksudmu diundang?’’
“Mundurlah, akan ku tunjukan
undangannya.”
Aku
mundur satu langkah, tiba-tiba ular itu membuka mata, matanya tajam seperti
akan memangsa apa yang dilihatnya.
Wartawan
yang dari tadi mengerumuniku berhamburan ketakutan, aku juga hampir lari
melihat mata itu, tapi aku kuatkan tekat untuk tetap ditempat.Tentara yang
sejak tadi berjaga dengan senjata segera mengarahkan senjatanya ke ular
itu.Jenderal yang sejak tadi melihat sambil minum kopi tersedak melihat mata
ular itu.Hampir saja dia memberi aba-aba untuk menyerang.
“Jangan serang!!!”
teriakku.Akhirnya jenderal tadi menyuruh pasukannya untuk meletakan senjata.
“Apa yang kau lakukan Nak?”
teriak jenderal itu dari depan tendanya.
“Dia tidak berbahaya, kalian
tenang dan lihat saja…”
Belum
berhenti aku bicara ular itu membuka mulutnya sangat lebar, mengejutkan, di
dalam mulut ular itu ada sebuah undangan yang bertuliskan:
“DATANGLAH KE JOGJA, PENUHILAH
JALAN-JALAN KAMI, NIKMATI KOTA KAMI”

joss
BalasHapusnuwun, Lur
BalasHapus