Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Senin, 19 Januari 2015

JOGJA, 27 DESEMBER

Fuad Cahyadiputra

Pagi ini aku membuka mata, seperti biasa aku langsung menuju balkon kos-kosan. Aku ingin mendapat udara segar pagi hari. Tapi saat membuka pintu menuju balkon, sambil membuka mata, bukan udara segar yang kudapat, malah sebongkah benda bulat yang bersisik. Yang lebih membuat tercengang lagi adalah benda itu besarnya sampai menutupi jalan.Dan tingginya sampai aku—yang ada di lantai dua kos-kosan—bisa menyentuhnya.Benda ini memanjang menyusuri jalan hingga aku tak bisa melihat ujungnya. Benda ini mirip sisik ular, atau tubuh ular, tapi ular apa yang besarnya sampai menutupi jalan kota ini?
Semakin penasaran aku mencoba menyentuhnya, aku menyentuh benda itu, terasa sekali kalau ini sisik ular, aku semakin yakin.Rasanya hangat, berarti dia masih hidup, tapi tiba-tiba aku mulai merasa ada yang mengalir dalam tubuh ular itu, seperti detak jantung.Semakin aku menghayati detak jantung itu, mengalir seperti aliran sungai, bergelombang.Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara yang ada di otakku; “Naiklah, naik dan berjalanlah sampai ke kepalaku!”
“Kau siapa?” tanyaku dalam pikiran juga.
Tapi dia tidak menjawab, akhirnya aku mematuhi perintah itu, aku naik di atas tubuh ular yang memenuhi jalan itu dan berjalan menyusuri tubuhnya.Tapi di mana kepalanya?Aku hanya mencoba mengikuti insting, aku hanya mencoba peduli.
Saat aku mencoba menyusuri tubuh ular itu tiba-tiba dari sebuah rumah seseorang meneriaki ku.
“Hei apa yang kau lakukan di situ?Bahaya goblok!!!”
“Ada apa?”
“Kau tidak lihat tipi ya?Itu ular kutukan, ular itu telah memenuhi jalanan Jogja.”
“Haa?Bagaimana bisa?”
“Mana aku tahu, sudah turunlah, dari pada kau celaka nanti!”
“Aku hanya mencoba peduli!”
“Ahhh. ..terserah kau lah!!!” Teriak orang itu sambil menutup pintu rumahnya.
“Dasar orang zaman sekarang, mereka hanya bisa melihat berita di tipi tapi tidak bisa berbuat apa-apa atau lebih tepatnya tidak mau berbuat apa-apa, mending aku yang tidak punya tipi,” gerutuku dalam hati.“Sudah tahu ada ular yang menutupi seluruh jalan daerahnya, tapi mereka malah enak-enakan dirumah, tidak mau peduli, enak-enakan menonton tipi, lihat internet, ya ampun!!”
Sambil melamun aku tetap menyusuri punggung ular ini, tapi tidak kutemukan juga kepalanya.Apa benar ular ini telah menutupi seluruh jalanan Jogja? Kalau begitu aku harus memutari Jogja hingga bisa menemukan kepalanya.“Hei ular sebenarnya kepalamu dimana sih?” ular itu tetap tidak menjawab.
Tiba-tiba suara helikopter mengagetkanku, hempasan baling-balingnya menyapu pohon-pohon yang ada di sekitarku.Aku juga pasti terjatuh dari punggung ular ini kalau tidak menunduk. Dan dari helikopter itu terdengar suara, sepertinya orang itu memakai alat pengeras suara.
“Hei kau orang gondrong, sedang apa kau di sana?” teriaknya, sepertinya dia sedang emosi.
“Aku mencari kepala ular ini.”
“Kau bodoh ya?Itu berbahaya, cepat turun dan kembali ke rumahmu!”
“Tidak bisa, aku harus menemukan kepala ular ini!”
Woo lha gondrong ngeyel, kenapa kau ingin menemukan kepala ular ini?”
“Ular ini yang menyuruhku mencari kepalanya!” jawabku, sedang orang itu berhenti menjawab sejenak.
“Baiklah, tetap disitu!Aku akan memberikanmu tali tangga.”
Tiba-tiba dari helikopter itu jatuh tali tangga, tali itu hampir saja mengenai kepalaku.
“Naiklah!!!Akan ku antar kau ke kepala ular ini!”
Tanpa berpikir panjang aku langsung menaiki tali tangga itu, lagi pula aku juga sudah lelah, hampir tiga jam aku berjalan di punggung ular itu. Sesampainya di dalam helikopter aku melihat dua orang, yang satu pria berpakaian tentara, yang satu seorang wanita muda berkacamata memakai blazer biru tua dan rok pendek seragam, di pangkuannya bertumpuk kertas yang aku tak tahu apa.
“Siapa nama saudara?” tanya sang pria dengan tegas.
Emmhh…Saya Miko Pak, dari Kota Gede.”
“Oke saudara Miko, saya Ibnu, saya Jenderal Angkatan Darat, dan ini saudari Ilmi, dia seorang ahli invertebrate, ilmuan ular lebih gampangnya.”
“Saya Miko,” kataku sambil berjabat tangan.
“Ilmi,” jawabnya singkat dibarengi senyuman yang sungguh manis.
Belum aku selesai bersalaman sambil menikmati wajah cantik wanita itu, sang Jenderal segera memotong dengan suara setengah membentak.
“Baik saudara Miko, coba ceritakan bagaimana ular itu bisa menyuruh kamu untuk mencari kepalanya?”
Akhirnya aku menceritakan pengalamanku tadi pagi, yang membuatku harus berjalan di atas punggung ular selama tiga jam.
“Baiklah saudara Miko, itu tadi cerita yang tidak mutu, tetapi cocok dengan keadaan yang tidak mutu di bawah kita, coba lihat ke bawah, sebuah keajaiban atau kutukan telah datang ke Jogja, seekor ular raksasa memenuhi jalan kota Jogja, kami yakin ular itu datang dari laut selatan, lihatlah ke arah selatan, ekor ular itu melilit jalan-jalan di pantai Parangtritis, lalu ke utara melalui jalan Parangtritis hingga mencapai kota, tapi yang membingungkan adalah, ular ini seperti bingung, badannya berputar-putar hingga seluruh jalan di kota Jogja dan sekitarnya penuh oleh badan ular itu.”
Benar, sambil mendengarkan penjelasan dari jenderal itu aku mengamati keadaan dibawah dari helikopter, jalan-jalan di Jogja penuh oleh badan ular itu, mulai dari jalan Parangtritis, ring road, hingga jalan-jalan kota, seperti  Jalan Tamansiswa, Jalan Mataram, Jalan Adisucipto, semua dipenuhi badan ular.
“Memang benar belum ada korban jiwa, tetapi jika jalan di Jogja seperti ini, banyak orang dirugikan, orang-orang tidak bisa kemana-mana, Jogja akan lumpuh!” sambung Ilmi yang dari tadi memperhatikan di sebelah sang Jendral.
“Lalu dimana kepalanya?” tanyaku sambil melihat mereka berdua.
“Di bawah kita sekarang,“ jawab ilmi sambil mukanya menunjukan arah bawah.
Seolah tak percaya aku hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan dibawah.Aku berada tepat di atas Alun-Alun Utara Jogja, dan kepala ular itu tepat di antara pohon beringin kembar yang ada di tengah Alun-Alun.Badannya membujur ke arah utara memenuhi Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Malioboro.
“Kita turun Bung!” perintah sang Jenderal kepada pilot.
“Siap Pak” jawab sang pilot dengan tegas.
Helikopter turun perlahan, aku mulai melihat kerumunan tentara bersenjata lengkap, tenda-tenda hijau tua, aku juga melihat tank dan panser, semua mengelilingi kepala ular itu, semua siaga satu, banyak juga wartawan yang mengambil video atau foto.Tetapi tak ada penduduk sipil, entah karena mereka tak bisa kemari atau mereka memang tidak peduli.
Kami mulai turun dari helikopter, tanpa pikir panjang aku langsung disuruh jendral itu untuk berbicara pada ular itu.
“Cepat segera selesaikan ini, aku ingin liburan setelah ini selesai.”
“Tapi tak ada strategi atau rencana dulu?” tanya Ilmi kebingungan.
“Kelamaan!Aku sudah bosan, kalian terlalu banyak nonton film, segera bicara pada ular itu, suruh dia pergi dan masalah selesai, kita bisa segera pulang liburan, ayolah, ini hari libur.”
Tanpa pikir panjang juga akhirnya aku berjalan menuju kepala ular itu, ular itu mirip ular piton, atau anaconda, kata Ilmi dari bentuk sisik dan kepala, ular itu digolongkan kedalam keluarga ular piton.
Sambil gemetaran aku menyentuh kepala ular itu, dekat, dekat sekali, hingga aku bisa merasakan nafas ular itu, dia tertidur.
Tiba-tiba suara itu datang lagi, suara yang ada di kepalaku.
“Kau telah sampai?”
“Kau ini apa? Atau ular apa? Maksudku, kau dari mana dan apa maksudmu datang ke kota kami?
“Aku diundang oleh Jogja”
“Apa maksudmu diundang?’’
“Mundurlah, akan ku tunjukan undangannya.”
Aku mundur satu langkah, tiba-tiba ular itu membuka mata, matanya tajam seperti akan memangsa apa  yang dilihatnya.
Wartawan yang dari tadi mengerumuniku berhamburan ketakutan, aku juga hampir lari melihat mata itu, tapi aku kuatkan tekat untuk tetap ditempat.Tentara yang sejak tadi berjaga dengan senjata segera mengarahkan senjatanya ke ular itu.Jenderal yang sejak tadi melihat sambil minum kopi tersedak melihat mata ular itu.Hampir saja dia memberi aba-aba untuk menyerang.
“Jangan serang!!!” teriakku.Akhirnya jenderal tadi menyuruh pasukannya untuk meletakan senjata.
“Apa yang kau lakukan Nak?” teriak jenderal itu dari depan tendanya.
“Dia tidak berbahaya, kalian tenang dan lihat saja…”
Belum berhenti aku bicara ular itu membuka mulutnya sangat lebar, mengejutkan, di dalam mulut ular itu ada sebuah undangan yang bertuliskan:
“DATANGLAH KE JOGJA, PENUHILAH JALAN-JALAN KAMI, NIKMATI KOTA KAMI”



2 komentar: